Selasa, 17 Mei 2011
FALSAFAH SHALAT LIMA WAKTU
Kita mengalami kondisi kedua ketika kita
sepertinya mendekat kepada tempat musibah terjadi. Sebagai contoh, setelah
ditahan berdasar surat panggilan, tiba waktunya kita diajukan ke hadapan hakim.
Pada saat demikian kita merasakan kegalauan perasaan dan beranggapan bahwa
semua rasa keamanan telah meninggalkan diri kita. Kondisi seperti itu mirip
dengan keadaan ketika sinar matahari mulai suram dan manusia bisa melihat
matahari secara langsung serta menyadari bahwa sebentar lagi matahari itu akan
terbenam. Sejalan dengan kondisi keruhanian seperti itu maka ditetapkanlah
shalat Ashar.
Kondisi ketiga adalah keadaan ketika kita
merasa kehilangan segala harapan memperoleh keselamatan dari musibah. Sebagai
contoh, setelah mencatat bukti-bukti tuntutan yang akan membawa kehancuran diri
kita, kita didakwa dengan bentuk pelanggaran dimana telah disiapkan surat dakwaan. Pada saat
demikian, kita merasa sepertinya kehilangan semua indera dan mulai berfikir
menganggap diri sebagai narapidana. Kondisi seperti itu mirip dengan saat
ketika matahari terbenam dan harapan melihat terang hari sudah pupus karenanya.
Diperintahkanlah shalat Maghrib yang sejalan dengan kondisi keruhanian
demikian.
Kondisi keempat adalah ketika kita ditimpa
musibah secara langsung dimana kegelapannya yang kelam telah menyelimuti diri
kita. Sebagai contoh, setelah pembacaan bukti-bukti maka kita sepertinya lalu
divonis dan diserahkan untuk dipenjarakan. Kondisi seperti itu mirip dengan
keadaan malam ketika semuanya diselimuti kegelapan yang kelam. Untuk kondisi
keruhanian seperti itu ditetapkanlah shalat Isya.
Setelah menghabiskan satu kurun waktu dalam
kegelapan dan penderitaan, datanglah rahmat Ilahi yang meluap mengemuka dan
menyelamatkan kita dari kegelapan dengan datangnya fajar yang menggantikan
kegelapan malam dimana sinar pagi mulai muncul. Shalat Subuh ditetapkan untuk
kondisi keruhanian seperti itu.
Berdasarkan kelima kondisi yang berubah terus
tersebut maka Allah s.w.t. telah mengatur shalat lima waktu bagi kita. Dengan demikian kita
bisa memahami bahwa shalat tersebut diatur waktunya bagi kemaslahatan kalbu
kita sendiri. Bila kita menginginkan keselamatan dari segala musibah, janganlah
kita sampai mengabaikan shalat lima
waktu karena semua itu merupakan refleksi dari kondisi internal dan keruhanian
kita. Shalat merupakan obat penawar bagi segala musibah yang mungkin mengancam.
Kita tidak pernah mengetahui keadaan bagaimana yang dibawa oleh hari
berikutnya. Karena itu sebelum awal hari, mohonlah kepada Tuhan kita yang Maha
Abadi agar hari tersebut menjadi sumber kemaslahatan dan keberkatan bagi kita.
Senin, 09 Mei 2011
Balasan Orang Yang Takut Kepada Rabb-nya
Balasan Orang Yang Takut Kepada Rabb-nya
Balasan Orang Yang Takut Kepada Rabb-nya Yahya bin Ayyub berkata, “Ada seorang pemuda diMadinah yang amat dikagumi oleh ‘Umar bin al-Khaththab RA. Suatu malam,seusai shalat ‘Isya, pemuda ini keluar lalu muncullah di hadapannyaseorang wanita yang menyodorkan dirinya sehingga tergoda jugalahhatinya, lalu wanita itu berlalu.
Dia mengikuti jalannya dari belakang hingga sampai ke depan pintunya,lalu melirik-lirik karena malu dengan hatinya dan ketika itulah diateringat ayat Allah [artinya],
“Sesungguhnya orang-rang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-wasdari syaithan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga merekamelihat kesalahan-kesalahannya.†“ [al-A’râf:201], setelahmembacakan ayat itu, dia jatuh pingsan. Lantas, si wanita itu membukapintu dan melihat kondisinya seperti sudah jadi mayat, lantas dibantuoleh pembantu perempuannya, mereka berdua mengangkatnya hingga sampaike pintu rumahnya sendiri.
Tak berapa lama, keluarlah ayahnya dan menyaksikan anaknya tergeletakdi depan pintu. Sang anak kemudian dibawa masuk, lantas tersadar.Kemudian dia menanyakan kepada sang anak,
“Apa yang telah terjadi denganmu, wahai anakku.â€
Sang anak tidak memberitahukan kejadian yang sebenarnya namun ayahnyanampak tetap ngotot hingga akhirnya dia menceritakan duduk perkaranya.Ketika sampai pada ayat yang dibacanya tadi, dia kembali jatuh pingsanyang sangat serius hingga menghembuskan nafas terakhir.
Kisah kematiannya ini sampai ke telinga ‘Umar RA., maka dia berkata,“Kenapa kalian tidak memberitahuku perihal kematiannya.†Kemudian diapergi menuju kuburannya, berdiri seraya memanggil,
“Wahai fulan! “ ‘Dan bagi orang yang takut saat menghadap Tuhannyaada dua surga.’ “ [ar-Rahmân:46].â€
Lalu dia mendengar suara yang berasal dari dalam kuburan itu, “Wahai‘Umar, Rabbku telah memberinya padaku.â€
Terdapat versi lain dari riwayat mengenai kisah ini, yaitu “Adaseorang pemuda pada masa ‘Umar bin al-Khaththab RA., yang selaludatang ke masjid dan beribadah di sana. Lantas suatu ketika, adaseorang pembantu perempuan yang jatuh cinta padanya dan hal itumembuat hatinya tergetar. Kemudian setelah itu, dia ingat kepada Allahdan melihat kesalahan-kesalahannya sehingga membuatnya jatuh pingsan.Lalu datanglah pamannya yang membawanya ke rumahnya. Tatkala siuman,dia berkata,
“Wahai pamanda, pergilah ke hadapan ‘Umar lalu sampaikanlah salamkuuntuknya serta katakan kepadanya, ‘Apa balasan orang yang takut saatmenghadap Rabb-nya.’â€
Lalu sang pamanpun memberitahu ‘Umar yang lantas mengunjunginya namunternyata dia sudah meninggal dunia. Maka, berkatalah ‘Umar, “Diamendapatkan dua surga.â€
[SUMBER: “al-Maw’id Jannât an-Na’îm“ karya Ibrâhîm bin‘Abdullah al-Hâzimy, h.59-60 sebagai yang dinukil dari kitab[1]







